
Penulis: Hafidz Azhar
Pagi itu, seorang pria paruh baya baru saja tiba di Stasiun Cicalengka. Ia mengenakan kemeja abu-abu tua dan membawa tas selempang yang menggantung di bahu. Sambil menunggu saya datang, pria tersebut duduk di peron, menggenggam sebuah botol aluminium sedang. Dari jarak sekitar tujuh meter, saya bisa melihat kacamata khasnya tersorot sinar matahari. Ia pun membalas tatapan saya, lalu berdiri dan menghampiri.
“Ti rumah jam sabaraha, Mang?”
“Tabuh 9-an, Kang, angkat mah,” jawab saya kepada Kang Hawe, sapaan akrab dari lelaki bernama lengkap Hawe Setiawan.
Beberapa hari sebelumnya, kami sudah merencanakan kegiatan menggambar di sekolah. Obrolan itu terjadi di Kedai Jante. Di sela percakapan, Kang Hawe menyatakan keinginannya mengunjungi Cicalengka. Saya langsung menyambut niat itu dengan antusias, sembari mengajaknya menggambar bersama di PPI 24 Rancaekek.
Menggambar di Djuantika
Sekitar seminggu sebelum kami berkegiatan di PPI 24, Kang Hawe sempat mengunjungi SMP Djuantika, tempat saya juga mengajar. Sekolah ini terletak di Kampung Tanjungwangi, Kecamatan Cicalengka, dan berjarak sekitar 15 kilometer dari PPI 24.
Saat itu kegiatan belajar-mengajar tidak dilaksanakan seperti biasa. Saya mengarahkan siswa untuk menggambar di luar kelas, bahkan di luar lingkungan sekolah, menuju sebuah gubuk milik warga yang berjarak tak lebih dari lima ratus meter. Perjalanan itu membawa kami menyusuri jalan setapak berlapis tanah merah yang agak basah. Di sepanjang jalan, terlihat bukit berundak, kebun jagung, dan petak-petak sawah. Pemandangan inilah yang memantik imajinasi anak-anak.
“Bapak, kami menggambar bebas, kan?” tanya Linda, siswi kelas 9, sambil berjalan ke gubuk milik Pak Asep, lokasi anak-anak menggambar.
Di sana, empat siswa antusias mengikuti kegiatan ini: Linda, Dea, Najwa, dan Arneta. Mereka menggambar bersama Kang Hawe, memotret suasana sawah, Gunung Mandalawangi, dan pepohonan hijau yang menjuntai di pekarangan rumah warga.
Tiga meter dari gubuk, Kang Hawe berdiri seperti terpaku. Tatapannya tertuju pada Gunung Mandalawangi yang menjulang pada ketinggian sekitar 700 mdpl. Ia terus memoles sketsa dengan tangannya, mengabadikan pemandangan yang diamatinya.
Menuju PPI 24 Rancaekek
Selasa, 28 April 2025, saya dan Kang Hawe berangkat ke PPI 24 Rancaekek dari Stasiun Cicalengka sekitar pukul 11 siang. Tiba di sekolah, kami langsung disambut beberapa siswa yang mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Kami lalu masuk ke ruang guru. Dari depan pintu sudah terlihat Buya Ma’mun Hanafiah sibuk dengan gawainya di balik meja satu meter. Asap rokok tipis mengepul dari arahnya, dan terdengar suara dari gawai yang sedang dipantau.
Sebelum berbicara lebih jauh, saya mengenalkan Kang Hawe kepada Buya. Buya yang merupakan Wakil Kepala Sekolah dikenal luas di kalangan siswa dan guru sebagai ensiklopedia hidup Desa Linggar. Saat siswa mendapat tugas tentang desa itu, mereka biasanya langsung mewawancarainya.
Obrolan pun mengalir dari soal sekolah hingga cerita-cerita sejarah lokal. Kang Hawe tampak tertarik mendengarkan kisah-kisah dari Buya, terutama mengenai kehidupan sosial sebelum sekolah dibangun. Namun, percakapan itu harus berhenti sejenak karena bel pergantian pelajaran berbunyi.
“Hayu, Kang, ka kelas,” ajak saya.
Kami lalu menuju kelas 11A yang terletak di lantai 3. Cuaca siang itu panas menyengat, hingga kemeja putih saya basah oleh keringat. Bahkan Kang Hawe pun melepas kemeja tebalnya karena kepanasan.
Membuat Doodle
Kang Hawe mengeluarkan sketchbook andalannya—buku yang dipenuhi sketsa dan doodle hasil coretan harian.
Sambil duduk di kursi guru, Kang Hawe mengamati satu per satu siswa. Saya pun memperkenalkan beliau kepada kelas. Karena saat itu saya mengajar sejarah, saya memberi tugas: “Menggambar sejarah.” Aktivitas ini saya gunakan sebagai bentuk pemahaman atas materi yang telah diajarkan.
Beberapa siswa terlihat bingung. Kang Hawe lalu berdiri dan menyarankan untuk membuat doodle. Istilah ini tidak asing bagi saya dan para siswa. Metode doodle bisa menjadi cara efektif untuk memvisualisasikan narasi sejarah secara sederhana, dan siapa pun bisa melakukannya, tanpa harus memiliki latar belakang seni.
Untuk membimbing mereka, Kang Hawe menjelaskan dasar-dasarnya:
“Kalian bisa memulai dari bentuk kotak, bulat, atau segitiga. Lalu sisipkan penjelasan sejarah atau hal apa pun yang ingin disampaikan.”
Tak satu pun bertanya—tanda bahwa mereka sudah paham. Masing-masing mulai menyiapkan kertas putih dan pensil.
Suasana kelas pun hening. Saya dan Kang Hawe turut menggambar. Imajinasi kami tertuju pada berbagai gambaran sejarah yang pernah kami pelajari.
Tak lama, terdengar keributan dari luar kelas. Ternyata kelas 11B sudah siap menggambar. Biasanya, setelah mengajar di kelas A, saya lanjut ke kelas B dengan materi yang sama.
“Kita menggambar di luar, Pak!” seru seorang siswi 11B.
Karena jumlah bangku tidak cukup untuk digabung, saya memutuskan agar mereka menggambar di depan ruang kelas 11A. Kali ini, saya membebaskan mereka menggambar dengan tema sejarah secara lebih luas.
Hasilnya beragam. Rosihan, misalnya, menyoroti isu pembungkaman, sedangkan Nazril menggambarkan premanisme. Keduanya mengambil inspirasi dari bahasan mengenai Orde Baru, tapi memvisualisasikannya dalam konteks kekinian.
Suasana kelas khusyuk. Saya sesekali berkeliling melihat karya siswa. Beberapa gambar disusun rapi dan memperlihatkan narasi sejarah yang kuat. Aini menggambar peristiwa Malari, sementara Firza menghadirkan ilustrasi kerusuhan 1998.
Bel pun berbunyi, menandai pukul tiga sore. Kegiatan menggambar harus diakhiri. Meski kelelahan, anak-anak terlihat senang. Beberapa dari mereka bahkan minta berfoto dengan Kang Hawe sebelum kami pamit pulang.
Penulis: Hafidz Azhar, Guru Mata Pelajaran Sejarah dan Geografi MA Persis 24
Tulisan ini telah dipublikasikan sebelumnya di BandungBergerak.ID dengan judul CERITA GURU: Menggambar Sejarah (https://bandungbergerak.id/article/detail/1599367/cerita-guru-menggambar-sejarah)
