Di dalam ruang kelas, sering kali kita mengira hanya manusia yang berpikir, merasa, dan bermakna. Padahal, di sekeliling kita, ada banyak “benda diam” yang diam-diam menjadi saksi: papan tulis yang menampung ilmu, meja yang menyimpan cerita, tas yang memikul harapan, hingga pena yang mengalirkan mimpi.
Melalui tugas menulis puisi dengan sudut pandang benda di kelas, para santri Kelas XI mencoba menghadirkan suara-suara yang selama ini tak terdengar. Hasilnya bukan sekadar latihan menulis, tetapi juga refleksi—tentang belajar, tentang proses, tentang mimpi, dan tentang kehidupan itu sendiri.
Kumpulan puisi ini menunjukkan kekayaan imajinasi, keberanian berekspresi, serta kedalaman rasa yang tumbuh dari proses pembelajaran. Setiap karya ditampilkan dengan tetap mempertahankan gaya khas penulisnya, dengan hanya perbaikan kecil pada aspek penulisan.
Selamat membaca, dan semoga kita dapat melihat ruang kelas dengan cara yang berbeda.
Kumpulan Puisi Santri Kelas XI
1. Papan Tulis yang Diam
Dhivo Pradinafika Al Fharabie (XI B)
Semua tulisan berada pada diriku
Namun semua tulisan itu kau hapus tanpa kenangan
Tak pernah aku marah saat kau pukul aku
Meskipun kadang itu menyakitkan untukku
Tapi aku hanya diam tak berdaya
Karena itu caraku untuk menggapai cita-citamu
2. Aku, Tas yang Menyimpan Dunia
Ihsan Ramadhani (XI B)
Aku bukan sekadar kain dan resleting
Aku adalah kenangan yang tiada banding
Di dalamku, buku-buku berbaris seperti mimpi
Yang sunyi saat hari Jumat menghampiri
Ada pensil yang menua karena terlalu setia
Penghapus yang terbelah karena lelah
Dan pulpen yang bocor karena menulis dengan gacor
Aku pernah basah oleh hujan di hari Minggu
Pernah terjatuh di sudut kelas yang bau
Pernah menjadi bantal di siang hari yang sendu
Dan aku tetap setia memeluk semua rahasia itu
Aku tahu tentang harapan yang kau simpan
Tentang takut ketika tertinggal pelajaran
Tentang cita-cita yang kau langitkan
Walaupun diam, nyatanya aku ikut dalam perjuangan
3. Pintu
Muhammad Nazharuddin Ra’uf (XI B)
Bentuk tubuhku tinggi
Tetapi tidak setinggi mimpi anak-anak di kelasku
Kadang aku menjadi korban penganiayaan
Murid-murid di kelasku
Namun diriku juga menjadi awal perjalanan mereka
Untuk mencapai mimpi yang tinggi
4. Rumah di Pundak
Zhafira Azzahra (XI B)
Aku adalah rumah bagi barang-barangmu
Tempat pena, buku, dan mimpi bersemayam
Dibuat kokoh agar tak mudah rapuh
Menjaga isi di dalam agar tetap aman
Kadang kau isi aku terlalu penuh
Hingga tali pengikatku terasa perih
Namun aku tak pernah mengeluh
Karena menjadi pendampingmu adalah takdirku
5. Pena
Agnina Nurimani (XI B)
Batang ramping di antara jemari,
Setiap hari kau tekan dan kau keluarkan tintanya,
Menuliskan kata yang kau jadikan mimpi,
Dan tintanya menyimpan nyawa aksara.
Di antara diksi yang kau tuliskan,
Tersimpan arti yang tak tergantikan.
Tak apa jika diriku menjadi korban,
Demi mimpi yang kau idam-idamkan.
6. Kami Penjaga Ruang Ilmu
Fauzan Zhuyan Ar Rasyid
Di sudut ruang itu kami berdiri setia
Menanti langkah kaki yang datang setiap masa
Meja siap menjadi sandaran
Menampung tumpuan cita dan coretan impian
Di bawah, kursi menopang badan
Walau sering bergeser, tak pernah merasa beban
Di hadapan kalian, papan tulis terbentang luas
Menjadi kanvas ilmu, tertulis lalu terhapus
Sinar masuk lewat jendela yang terbuka
Membawa cahaya dan angin sepoi-sepoi
Sementara buku dan pulpen bekerja tanpa lelah
Merekam setiap kata, menyimpan cerita masa
Kami mungkin benda mati yang tak bersuara
Namun hati kami penuh untuk berbakti
Menemani kalian belajar, berjuang, dan bermimpi
7. Tinta Spidol
Syifa Fauzia Azzahra (XI B)
Bersenyum diam di tempat, berguna kehadiranku
Berwarna hitam pekat, kental cairanku
Tersimpan rapi di dalam boks kecil
Selalu digunakan di setiap kelas
Inilah diriku
Sering habis isi di dalam botolku
Karena spidol selalu haus akan tinta
Tinta yang menempel rapat di papan putih
Membentuk aneka ragam sesuai penggunanya
Kadang mengotori tangan dan pakaian
Dan hilang saat penghapus bertindak
8. Tas yang Selalu Ada
Balqis Luthfiani Salsabila Hermawan (XI A)
Aku selalu ada di pundakmu
Menemanimu berjalan di pagi hari
Sampai sore yang penuh lelah
Aku tetap menemanimu dalam kondisi apa pun
Kadang aku terasa berat
Namun isinya bukan hanya buku
Ada harapan kecil yang kamu simpan
Dan mimpi yang belum tercapai
9. Saksi di Depan Kelas
Nadia Fatha Royan (XI A)
Ia berdiri diam tanpa suara
Di hadapan kami yang penuh tanya
Menerima goresan demi goresan
Tentang angka, kata, dan harapan
Tak pernah ia memilih cerita
Benar atau salah tetap diterima
Lalu perlahan semua menghilang
Disapu waktu, berganti pelajaran
Debu halus menari di udara
Seakan menyimpan sisa makna
Dan di sana kami menyadari
Belajar adalah proses memahami
Ia tetap setia di tempatnya
Menjadi saksi setiap usaha
Meski tak bernyawa dan sederhana
Darinya tumbuh mimpi yang tak terhingga
10. Aku Mencintaimu, Wahai Insan
Nuraini Jaelani (XI A)
(Sudut pandang aksara)
Aku mencintaimu, wahai Insan,
Di tengah bisingnya jutaan jiwa dalam bentala
Aku hadir, menyulut diri menjadi lentera asa
Meski di matamu aku sempat dianggap tiada
Saksikanlah, kala kepercayaan perlahan fana
Dan lisan manusia mulai gemar mengeja dusta
Kata-kata yang mereka anggap sia-sia
Kau simpan dalam raga
(Sudut pandang penulis)
Aku pun mencintaimu, wahai Aksara
Kau bukan sekadar perantara
Kau adalah Abisatya
Sahabat karib yang setia
Aksara, biarkan aku menumpahkan segala cerita
Sebab aku telah bersumpah pada semesta
Mulut ini takkan lagi menaruh percaya pada manusia
Biar jemariku yang menari merangkai kata
Dan tolong, dekaplah atma ini erat-erat dalam sastra
11. Papan Tulis yang Setia
Aji Saehyit (XI A)
Tubuhku luas, putih, dan dingin
Menunggu sentuhan spidol yang menari di atas kulitku
Aku menelan ribuan angka dan rumus yang sulit
Menjadi jembatan antara guru dan mimpi kalian
Kadang aku merasa sakit saat dihapus paksa
Namun aku rela kembali kosong dan bersih
Agar esok pagi, ada ilmu baru
Yang bisa aku ceritakan lagi
Meski pada akhirnya
Aku selalu ditinggal sendiri saat lonceng berbunyi
12. Cahaya Kehidupan
Riki Krisna (XI A)
Lembaran kertas, tumpukan kata
Membawa pikiran melintasi semesta
Tak perlu kaki untuk berkelana
Cukup membaca, dunia pun terbuka
13. Aku adalah Meja
Danish Daniyal Suryadi (XI A)
Di atasku, buku-buku dibuka
Pena menari, kadang ragu, kadang terburu
Aku menahan beban mimpi
Yang ditulis setengah hati
Rumus-rumus yang ingin dimengerti
Dan harapan yang diam-diam disimpan sendiri
Namun aku juga saksi dari hal-hal kecil
Yang tak pernah masuk ke dalam nilai rapor
Coretan nama
Janji-janji yang bahkan mereka lupa
Gambar-gambar tak jelas
Senyum, bintang, dan kata “bosan” yang berulang
Kadang aku diketuk pelan saat gelisah
Kadang dipukul saat kesal
Kadang hanya menjadi tempat kepala bersandar
Ketika dunia terasa terlalu lelah untuk dipahami
Aku melihat mereka datang sebagai orang asing
Duduk berjajar tanpa saling mengenal
Canggung, sunyi
Hanya suara kursi yang digeser perlahan
Lalu waktu berjalan tanpa suara
Tawa mulai jatuh di atasku
Cerita kecil berhamburan
Rahasia dibisikkan pelan
Dan persahabatan tumbuh
Tanpa mereka sadari
Aku menyimpan semuanya
Bekas goresan
Noda tinta
Dan sisa kenangan
Hingga suatu hari mereka pergi
Kelas kembali sepi
Aku tetap di sini
Dengan luka-luka kecil yang terasa hangat
Karena aku tahu
Aku bukan sekadar meja
Aku adalah tempat
Di mana orang-orang asing
Perlahan menjadi
Rumah satu sama lain
14. Tas di Pundakku
Nabila Farida Muhammad (XI A)
Tas ini selalu ada di pundakku
Ikut berjalan dari pagi yang masih mengantuk
Sampai sore yang penuh lelah
Diam-diam, rasanya mengerti
Apa saja yang aku jalani hari itu
15. Buku yang Menunggu
Salwa Raina Bidari (XI A)
Aku terdiam di sudut meja
Berdebu, namun tak pernah lelah menunggu
Tanganku adalah halaman-halaman tipis
Yang rindu disentuh oleh jemarimu
Setiap huruf yang kupeluk
Adalah bisikan yang ingin kudengar kembali
Namun kau berlalu
Sibuk dengan dunia lain
Dan aku hanya bisa memanggil dalam sunyi
16. Coretan Penuh Makna
Galih Saputra (XI A)
Dari pulpen yang kugenggam erat
Mengalir kata tanpa sekat
Tinta kecil menari pelan
Menjadi cerita dalam tulisan
Ia sederhana, namun berarti
Mengubah pikir menjadi rangkai arti
Dari coretan yang tampak biasa
Lahir mimpi dan harapan rasa
Pulpen ini tak pernah lelah
Meski tinta kadang hampir menyerah
Ia tetap setia menemani
Setiap langkah dan imaji
Dari pulpen aku belajar
Bahwa hal kecil pun bisa besar
Asal terus menulis dan percaya
Akan indahnya suatu karya
17. Meja Sekolah
Ardellia Talia Putri (XI B)
Meja sekolah ini menjadi tempat aku belajar setiap hari
Penuh coretan dan cerita
Kadang menjadi tempat menulis tugas
Kadang juga menjadi tempat menyimpan lelah
Walaupun sederhana
Tetap setia menemani
Menjadi saksi perjalanan kecilku
Di kelas bersama teman-teman
18. Meja yang Mengerti
Keshya Ardhia Pramesti (XI A)
Meja ini selalu diam di depanku
Namun entah kenapa terasa mengerti
Saat aku lelah, aku bersandar padanya
Saat aku sedih, aku diam di atasnya
Ia menjadi tempat semua cerita
Tugas, mimpi, bahkan air mata
Meski tak bisa bicara
Seolah ia ikut merasakan semuanya
Kadang aku menatapnya lama
Seperti ada teman tanpa suara
Yang setia menemani setiap hari
Tanpa pergi, tanpa pernah meninggalkanku
Meja ini memang hanya benda
Namun bagiku lebih dari itu
Karena di atasnya tersimpan rasa
Yang tak selalu bisa aku ungkapkan
19. Cahaya Ilmu
Ghaisya Zazkia Rahmatilah (XI A)
Di dalamnya diam seribu suara
Menyimpan ilmu, mengukir cerita
Buku adalah jalan yang selalu ada
Membuka gerbang cahaya
20. Ruang
Fita Nuraeni (XI A)
Meja dan kursi diam setia
Menemani hari penuh cerita
Papan tulis penuh coretan
Tempat ilmu mulai dikenang
Jam berdetak tanpa henti
Mengingatkan waktu berarti
Di ruang sederhana ini
Tumbuh mimpi dalam hati
21. Ransel yang Belajar Hidup
Tufatun Handayani (XI B)
Aku terus dibawa oleh orang pintar dan lucu
Menyuruhku membawa beban yang tak ada hentinya
Entah itu beban hidup
Ataupun pelajaran
Dari mereka yang selalu membawaku
Aku jadi tahu
Walau kadang rumit dan membingungkan
Hidup tidak akan pernah berhenti
Sekalipun berat
Waktu akan terus berjalan
Bahwa untuk menjadi pintar aku harus belajar
Bahwa untuk mencapai akhir aku harus berani memulai
Bahwa jatuh yang ke-33 kali
Harus bangkit ke-34 kali
Dan ketika aku lusuh nanti
Aku sudah paham
Bahwa hidup tak selalu menyenangkan
Penutup
Kumpulan puisi ini bukan hanya hasil tugas, tetapi juga rekaman kecil perjalanan belajar para santri—tentang bagaimana mereka melihat, merasakan, dan memaknai dunia di sekitar mereka, bahkan dari sudut pandang benda-benda yang selama ini dianggap diam.
